Minggu, 13 Januari 2013

Kampung Batik Laweyan


Bukan hanya tempat belanja batik dan belajar membatik semata, Kampung Laweyan merupakan tempat wisata dengan pesona luar biasa. Di kampung itu pulalah muncul tokoh-tokoh pergerakan menentang penjajahan. Hingga kini, aura masa lalu Laweyan masih terasa, terutama ditunjukkan oleh adanya bangunan-bangunan kuno, yang tertutup dengan tembok-tembok tinggi. Asyik jika menyusuri lorong-lorongnya.

Sejarah batik Surakarta, pun diyakini berasal dari Laweyan, yang dikenalkan pertama kali semasa Kerajaan Pajang dengan pelopor Kyai Ageng Henis, pada awal abad ke-16. Maka, batik Surakarta itu, ya Laweyan. Dari tlatah Pajang, batik mengular menyesuaikan alur Kali Laweyan, masuk Bengawan Solo dan seterusnya sampai ke Laut Jawa, hingga muncullah motif batik pesisiran. Ekspor barang dari Indonesia dalam pengertian modern, konon berupa batik asal Laweyan pada awal 1930-an.
Kenapa batik Surakarta harus identik dengan Laweyan, sebab di sanalah konon batik bermula, diproduksi secara turun-temurun. Kyai Ageng Henis-lah yang memperkenalkan batik kepada penduduk sekitar Pajang pada awal abad ke-16. Setidaknya, begitulah yang diyakini warga Laweyan hingga kini.

Asal tahu saja, masyarakat Laweyan masih bertahan pada definisi batik, yang tidak hanya merujuk pada sebuah motif semata. Mereka menolak produk pabrikan, yang dibuat dengan menggunakan mesin-mesin modern dengan sebutan “batik”.
“Disebut batik itu, ya bila dibuat dengan menggunakan malam (lilin) dan melalui proses pewarnaan tertentu,” ujar Gunawan, pemilik rumah batik Putra Laweyan.
Tak hanya Gunawan, Widhiarso, juga mengatakan hal yang sama. “Jadi, batik itu bukan terbatas pada motif,” ujar pengurus harian Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan itu.
Naik-turun usaha batik Laweyan selalu beriringan dengan dinamika politik nusantara, sejak sebelum maupun setelah bernama Indonesia. Pada masa penjajahan dulu, Laweyan selalu dikontrol ketat oleh pemerintah kolonial Belanda, apalagi sejak Kyai Samanhudi membentuk organisasi perlawanan bernama Sarekat Dagang Islam. Proses pemasaran batik pun tak laluasa dilakukan.
Pada masa pergerakan, batik menjadi sumber ekonomi yang juga menopang gerakan perlawanan. Soekarno, Hatta dan tokoh-tokoh politik nasional, dilaporkan kerap berkunjung ke kampung itu, untuk rapat gelap dan melakukan konsolidasi. Ironisnya, masyakarat Laweyan merasa digencet justru pada masa Orde Baru.
Soeharto dianggap sebagai orang di balik masuknya mesin-mesin tekstil modern ke Surakarta melalui Batik Keris. “Tidak mungkin mesin tekstil didatangkan kalau tidak untuk menggencet usaha batik Laweyan. Apalagi, penempatan lokasi pabrik berdekatan dengan Laweyan,” ujar Pak Yanto, juru kunci Makam Kyai Ageng Henis.
Pak Yanto bertutur, sebelum Batik Keris hadir pada awal 1970-an, usaha batik sangat maju. “Di sini banyak saudagar kaya, yang mempekerjakan setidaknya 100 orang setiap rumah,” kenang Pak Yanto. Selain para buruh, kehadiran Batik Keris juga memukul usaha-usaha pemintalan benang yang dikelola perorangan, juga sentra industri lurik di Pedan, Klaten.
“Semua gulung tikar. Orang juga tak mau lagi menjalankan usaha pembuatan benang dari kapas karena kalah murah dengan barang-barang keluaran pabrik modern. Padahal, dulu banyak orang menanam kapas di sepanjang tepian sungai,” tambah Pak Yanto.
Laweyan sendiri, berasal dari kata lawe, yakni serat-serat kapas halus yang merupakan bahan baku pembuatan kain mori. Kata Laweyan menunjukkan tempat dimana banyak benang lawe di sana.
Tapi, wajah Laweyan kini sudah tak semuram beberapa puluhan tahun silam. Popularitas batik yang kian meningkat, bahkan ke kalangan anak-anak baru gede dan remaja, membuat kebutuhan akan bahan batik terdongkrak pula. Dan Laweyan, kini mulai menggeliat. Bila hingga 2004 lalu hanya tersisa 11 usaha batik, kini sudah mencapai 60-an orang yang menghidupkan kembali usaha batik, khususnya batik cap dan batik tulis.
Apa yang dilakukan Pak Alpha, Mas Gunawan, Mas Widhiarso dan kawan-kawan lewat Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan berbuah apresiasi. Pada 7 Januari lalu, Laweyan diganjar hadiah upakarti yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk kategori kepeloporan mereka menghidupkan Laweyan, bukan saja sebagai kampung batik, namun juga kawasan heritage.
Seberapa mahal harga batik Laweyan? Jawabannya adalah relatif. Batik cap bisa Anda beli dengan harga mulai Rp 50 ribuan hingga ratusan ribu. Namun untuk batik tulis, selain kerumitan motif harga juga ditentukan oleh jenis bahan (ada mori hingga sutera). Kalau Anda mesti merogoh kocek hingga jutaan rupiah, jangan dulu Anda menganggap mahal.
Coba Anda hitung sendiri, berapa ongkos produksinya bila untuk menghasilkan satu stel bahan batik saja, ibu-ibu di Laweyan sana harus menorehkan malam lewat canthing selama satu hingga dua bulan? Di luar harga bahan, coba tengok upah minimum regional (UMR) Surakarta yang sudah di atas Rp 700 ribu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar