Tampilkan postingan dengan label Wawasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawasan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2013

Putri Solo


Yen ngguyu dhekik pipine//Ireng manis kulitane/Dadi lan manise//
Lamat-lamat terdengar lagu keroncong itu saat tiga sekawan, Dono, Murdiyo, dan Kasan tiba di Wedangan Kang Brengos. Suaranya agak cempreng karena speaker handphone yang dipenuhi download-tan MP3 itu terlampau kecil. Bagi sebagian orang Solo, penggalan keroncong klasik itu tak asing. Putri Solo, judulnya.  Penyanyi keroncong kenamaan dari Waldjinah, Soendari Soekotjo dan sebagainya pernah merekam suaranya untuk lagu ini.

Andhong

Delman atau andhong memang sudah tidak sepopuler dulu, hingga awal 1980-an. Beberapa memang masih ada yang ‘beroperasi’ di Pasar Legi, untuk sarana angkut kulakan para pedagang. Tapi, sebagai angkutan komersil yang bisa diakses masyarakat kebanyakan, nyaris tak ada lagi. Tapi uniknya, akhir-akhir ini, delman-delman dari Solo justru kerap disewa oleh berbagai pemerintah daerah atau event organizer, seperti Semarang, Cilacap, Jakarta, hingga Banyuwangi, Jawa Timur.
Seiring dengan kian ramainya Kota Solo sebagai daerah tujuan wisata populer di tanah air dan kerapnya dijadikan tempat pertemuan-pertemuann berskala nasional dan internasional, Pemerintah Kota pun membeli beberapa delman, bahkan punya koleksi kereta kencana. Kereta-kereta itu digunakan sebagai sarana menjamu tamu khusus/penting yang berkunjung ke Kota Solo.

Sejarah Solo


Cerita bermula ketika Sunan Pakubuwana II memerintahkan Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Mangkuyudo serta Komandan pasukan Belanda J.A.B Van Hohenndorff untuk mencari lokasi ibukota kerajaan Mataram Islam yang baru. Setelah mempertimbangkan faktor fisik dan non-fisik akhirnya terpilihlah suatu desa di tepi Sungai Bengawan yang bernama desa Sala ( 1746 Masehi atau 1671 Jawa ). Sejak saat itu desa Sala berubah menjadi Surakarta Hadiningrat dan terus berkembang pesat.
Kota Surakarta pada mulanya adalah wilayah kerajaan Mataram. Kota ini bahkan pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram. Karena adanya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) menyebabkan Mataram Islam terpecah karena propaganda kolonialisme Belanda. Kemudian terjadi pemecahan pusat pemerintahan menjadi dua yaitu pusat pemerintahan di Surakarta dan Yogyakarta. Pemerintahan di Surakarta terpecah lagi karena Perjanjian Salatiga (1767) menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran.

Sabtu, 12 Januari 2013

Bengawan Solo

Dahulu kala Sungai Bengawan Solo mengalir tenang dari hulunya di wilayah utara hingga bermuara di Pantai Sadeng yang kini berada di Kabupaten Gunung Kidul. Namun, empat juta tahun yang silam, sebuah proses geologi terjadi. Lempeng Australia menghujam ke bawah Pulau Jawa, menyebabkan dataran Pulau Jawa perlahan terangkat. Arus sungai akhirnya tak bisa melawan hingga akhirnya aliran pun berbalik ke utara. Jalur semula akhirnya tinggal jejak yang perlahan mengering karena tak ada lagi air yang mengalirinya. Wilayah ini menjadi kaya akan bukit-bukit kapur yang menurut beberapa penelitian, semula merupakan karang-karang yang berada di bawah permukaan laut.